Minggu, 19 Agustus 2012

Makna Lebaran di Hari Fitri


 Lebaran. Kata yang dimaknai beragam oleh setiap orang. Orang yang merasa hidupnya “beruntung” memaknainya sebagai suatu akhir dari perjuangannya dalam melewati puasa. Menahan rasa lapar,  haus (terkadang juga menahan nafsu), dan kini saatnya menebus jerih payahnya dengan belanja dan maaf “pamer”. Sedangkan untuk orang yang kurang beruntung, lebaran hanyalah sebuah nama. Tidak ada yang istimewa bagi mereka. Hanya keramaian orang-orang yang berpakaian serba baru yang membedakan lebaran dengan hari-hari biasa.

Kita pasti bisa merasakan perbedaan makna lebaran itu. Lalu, apa hubungan lebaran dengan fitri. Biasa kita mendengar ucapan “Mari berlebaran di hari yang fitri”. Rasanya ada yang janggal dengan kata-kata dalam kalimat itu. Jika kita memaknai berlebaran adalah sebuah akhir perjuangan setelah sebulan lamanya berpuasa dengan saling bermaafan, maka fitri sendiri itu apa? Pasti sebagaian besar orang memaknai fitri adalah kembali suci. Lalu apakah dengan berpuasa sebulan penuh dan saling bermaafan, diri kita sudah bisa disebut kembali suci? Rasanya sangat aneh. Tapi itulah kenyataannya. Banyak orang merasa dirinya sudah kembali suci ketika lebaran tiba. 

Jika kita mau membaca puisi “Malam Lebaran” karya Sitor Situmorang, kita akan merasa ada yang aneh. Puisi itu hanya ada satu baris. Yaitu, Bulan di atas kuburan. Ada sebuah ketimpangan yang ingin ditunjukkan oleh pengarang. Mana ada bulan di malam lebaran. Malam lebaran adalah malam pergantian bulan. Jadi, jika bulan sudah muncul pun, tidak mungkin terlihat dengan kasat mata. Keanehan tidak berhenti di situ saja. Bulan yang semu itu ternyata ada di atas kuburan. Tentu saja kita tidak boleh memaknainya sebagai kuburan biasa. Kata kuburan harus kita kupas lagi. 

Jika boleh berpendapat, puisi “Malam Lebaran” karya Sitor Situmorang ini adalah sebuah gambaran tentang ketimpangan. Menggambarkan sebuah kebahagiaan atau kemenangan semu yang diibaratkan dengan bulan. Bulan yang semu. Karena pada malam lebaran adalah bulan baru. Baru mengalami masa peralihan. Pengarang sebenarnya ingin mengingatkan kita. Lebaran bukan berarti kita kembali fitri atau suci, seperti yang dikatakan oleh ustad-ustad di televisi. Kita harus mawas diri. Masih banyak sisi gelap dan kosong yang harus kita terangi dalam diri kita. Seperti kuburan yang sepi, gelap, dan kosong. Akan tetapi, jangan kita menerangi sisi gelap dan kosong itu dengan cahaya bulan yang semu. Melainkan dengan cahaya yang nyata. Artinya, jangan kita sombong dengan ibadah yang telah kita jalankan selama bulan puasa. Seakan-akan Tuhan telah menyiapkan segunung pahala atas ibadah yang telah kita jalankan selama bulan puasa. Seharusnya kita terlebih dulu memaknai ada apa dibalik ibadah kita itu. Dengan begitu, kita akan beribadah dengan apa adanya. Tulus dan ikhlas. Sehingga kita bisa merasakan cahaya yang nyata, bukan cahaya semu. 

Kembali fitri bukan seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Kembali fitri bukanlah kita kembali seperti bayi yang baru lahir dan tidak berdosa. Itu hanya pemahaman luar saja. Kita harus memaknai semua ibadah yang telah kita lakukan untuk bisa mencapai fitri. Lalu ibadah yang bagaimana yang harus kita maknai agar kita bisa kembali fitri? Butuh sebuah perenungan untuk memaknainya. Setiap orang bebas memaknainya. Asal jangan sampai kita seperti Bulan di atas kuburan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar